JAMBIBEDA.ID, Jakarta – Di tengah lautan ribuan mahasiswa yang berkumpul dari berbagai penjuru Indonesia, seorang pemuda berdiri tegak di podium orasi. Suaranya menggelegar, membakar semangat semua yang hadir.
Dia adalah Fachrori Bute, mahasiswa semester 7 Fakultas Hukum Universitas Muara Bungo (UMB) yang juga seorang aktivis yang tak gentar memperjuangkan keadilan bagi rakyat.
Sebagai Koordinator Kampus dari Sumatra, Fachrori memiliki jaringan kuat dengan mahasiswa pusat dan BEM pusat. Ia tak hanya bicara, tapi berdiri di garis depan dalam melawan revisi UU Minerba yang diyakini akan menambah penderitaan rakyat, merusak lingkungan, dan mengorbankan warisan budaya di Bungo, Jambi, serta Sumatra.
Ketika Orasi Membuat Menteri Menangis
Di atas podium, dengan suara khasnya yang serak dan lantang, Fachrori menyuarakan ketidakadilan yang akan lahir dari revisi UU Minerba. Ia menyerukan bahwa tanah rakyat tidak boleh dijual, lingkungan tidak boleh dihancurkan, dan keadilan harus ditegakkan!
Kata-katanya begitu dalam, begitu tajam, hingga Menteri Sekretaris Negara Prabowo, Setio Hadi tak kuasa menahan tangis. Di hadapan ribuan mahasiswa, sang menteri berpelukan lama dengan Fachrori, seolah menyadari betapa besar dampak perjuangan mahasiswa ini. Air matanya jatuh bukan karena lemah, tapi karena bangga melihat pemuda yang lahir dari rahim HMI begitu peduli terhadap rakyat dan bangsanya.
Kenapa Mahasiswa Harus Bergerak?
Revisi UU Minerba bukan sekadar kebijakan biasa. Ini adalah ancaman bagi kehidupan rakyat kecil, yang selama ini bergantung pada alam dan tanah mereka. Jika undang-undang ini diubah untuk kepentingan segelintir orang, rakyat akan semakin miskin, tanah leluhur mereka akan hilang, dan alam akan rusak tanpa batas.
Bungo, Jambi, dan Sumatra bukan hanya sumber tambang bagi korporasi. Ini adalah rumah bagi jutaan rakyat yang ingin hidup sejahtera tanpa ketakutan tanah mereka dirampas. Jika mahasiswa tidak bersuara, siapa lagi yang akan membela rakyat?
Dari Mahasiswa untuk Perubahan!
Saat ribuan mahasiswa menyambut orasinya dengan tepuk tangan dan teriakan semangat, satu hal menjadi jelas: perjuangan belum selesai!
Fachrori Bute telah menunjukkan bahwa suara mahasiswa bisa mengguncang negeri ini.
“Sekarang giliran kita semua! Mahasiswa Jambi, Bungo, Sumatra, dan seluruh Indonesia harus bangkit, bersatu, dan melawan segala bentuk ketidakadilan,” pesannya.
“Bangkit! Lawan! Jangan biarkan tanah kita dirampas, jangan biarkan rakyat semakin sengsara. Mahasiswa adalah benteng terakhir keadilan,” katanya. (skm)







